The Role of Representation, Relation, and Identity in Reinforcing Local Wisdom Values in Indonesian Television Documentaries
Article

The Indonesia Bagus television documentary program is a form of media that consistently showcases the diversity of Indonesian local culture, including in the episode “Bromo,” which explores the life of the Tengger tribe on the slopes of Mount Bromo (Aderia & Yosiie Marlia, 2014). The phenomenon underlying this research is the challenge of the media in presenting authentic local cultural narratives without falling into tokenism or mere symbolic representation. This study aims to analyze how local wisdom values are represented in documentary programs through representation, relationships, and identity. The research uses a qualitative approach with multimodal analysis methods, including iconographic analysis, visual mode (attribute, setting, salience), and audio mode (narration, background sound, film judgment). The results show that producers position local speakers as the center of cultural representation through language styles, visual attributes, and narrative relationships that strengthen the local identity of the Tengger people. The representation of local wisdom becomes a narrative element, fostering an emotional and educational connection with the audience. In conclusion, this documentary succeeds in showing local values as part of the national narrative, with an inclusive production approach oriented towards cultural preservation.

Abstrakt

Program dokumenter televisi Indonesia Bagus merupakan program televisi yang secara konsisten menampilkan keragaman budaya lokal Indonesia, termasuk dalam episode “Bromo”, yang mengeksplorasi kehidupan suku Tengger di lereng Gunung Bromo. Fenomena yang mendasari penelitan ini adalah tantangan media dalam menyajikan narasi budaya lokal yang otenFk tanpa jatuh ke dalam tokenisme atau representasi simbolis belaka. PeneliFan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana nilai-nilai kearifan lokal direpresentasikan dalam program dokumenter melalui representasi, hubungan, dan idenFtas. PeneliFan menggunakan pendekatan kualitaFf dengan metode analisis mulFmodal, melipuF analisis ikonografi, mode visual (atribut, seLng, salience), dan mode audio (narasi, suara latar belakang, penilaian film). Hasil peneliFan menunjukkan bahwa produsen memposisikan penutur lokal sebagai pusat representasi budaya melalui gaya bahasa, atribut visual, dan hubungan naraFf yang memperkuat idenFtas lokal masyarakat Tengger. Representasi kearifan lokal menjadi elemen naraFf, menumbuhkan hubungan emosional dan edukaFf dengan audiens. Kesimpulannya, film dokumenter ini berhasil menampilkan nilai-nilai local sebagai bagian dari narasi nasional, dengan pendekatan produksi inklusif yang berorientasi pada pelestarian budaya.